12 Agustus 2012

Eustress, Distress dan Harddisk yang Overvoltage


Tulisan kali ini mungkin akan jadi tulisan yang terkesan ngalor-ngidul, tapi harap maklum, karena kata-kata yang tertuang memang dipaksa muncul dari sela-sela pikiran saya yang sedang agak semrawut.

Saya akan mulai dengan sedikit membahas mengenai sebuah kata yang menurut saya selalu terdengar seksi, yaitu "stress".

Dari yang pernah saya baca, stress itu bisa dikategorikan ke dalam dua macam, yaitu eustress dan distress (Quick dan Quick : 1984). Definisi masing-masing secara detil bisa kita baca di berbagai artikel di Internet maupun di buku-buku psikologi, tapi singkatnya eustress itu merupakan hasil dari respon terhadap stress yang bersifat sehat, positif dan konstruktif (bersifat membangun), sedangkan distress itu sebaliknya, yaitu bersifat tidak sehat, negatif dan destruktif (bersifat merusak).

Saya menyinggung sedikit tentang stress kali ini karena memang dua hari ini saya merasa sedang stress. Bukan stress yang parah sih, tapi lumayan bikin kepala nyut-nyutan. Gara-garanya adalah hard disk 80 GB saya yang berisi data-data penting tiba-tiba terbakar pada salah satu komponennya dan menyebabkan harddisk tidak berdosa itu mati total. Sepertinya harddisk itu mengalami overvoltage dan yang terbakar itu adalah komponen voltage regulatornya. Sayangnya, board harddisk di sekitar komponen itu juga ikut terbakar lumayan parah, sehingga harapan untuk bisa membuatnya menyala kembali dengan sekedar mengganti komponen satu itu cukup tipis. Harapan ke dua adalah dengan melakukan board replacement atau penggantian board sambil memindahkan chip yang berisi nomor serial harddisk dari board yang lama ke board yang baru. Tapi harapan ke dua itu juga kembali membuat dahi saya berkernyit. Untuk mendapatkan board yang sesuai tidak mudah. Opsi selanjutnya adalah dengan membeli via online. Ada situs yang melayani pembelian berbagai jenis board harddisk semacam itu, tetapi ketika saya lihat harganya, aduh… $39! What the...! Jauh lebih mahal dibanding harga harddisknya sendiri.

Yah, mungkin dengan terpaksa untuk sementara waktu harddisk itu kubiarkan tergeletak di almari, meski setiap kali memandangnya terbayang data-data milik sekian banyak orang (mungkin jumlahnya ribuan, sebab usaha saya dua tahun terakhir ini adalah memang rental, pengetikan dan servis komputer). Selain itu ada juga master-master program dan data-data lain seperti foto-foto keluarga, kumpulan e-book yang jumlahnya entah berapa ratus atau mungkin ribuan. Mungkin salah saya juga yang tidak menyempatkan diri untuk membuat backupnya.

Tapi, bagaimanapun juga, saya yakin bahwa dibalik setiap kejadian pasti ada hikmah yang tersembunyi. Tidak mungkin hidup berjalan mulus-mulus saja tanpa ada masalah. Meski saya akui pikiran ini masih tegang, masih stress. Kalau kemudian itu menjadikan saya uring-uringan dan tidak ramah terhadap anak-istri dan orang-orang yang saya temui, barangkali itu salah satu contoh distress. Tetapi ketika stress itu saya paksa, seperti malam ini, agar menjadi energi untuk mengetik ulang salah satu skripsi yang alhamdulillah sudah bisa saya selesaikan, maka mungkin itulah contoh eustress.

Hm... jadi ingat potongan lirik lagu Bang Haji; “Stress… obatnya iman dan taqwa….
07 Agustus 2012

Mengembalikan Kebiasaan Menulis


Menciptakan kebiasaan menulis, ternyata gampang-gampang susah. Dulu, seingat saya, ketika saya masih menjalani masa pengabdian (praktek mengajar) di Balai Pendidikan Pondok Pabelan Magelang, saya menulis hampir setiap hari. Waktunya tidak tentu, tetapi paling sering adalah pada malam hari ketika menjelang tidur. Saya juga, ketika itu, sangat suka tidur dengan ditemani tumpukan buku-buku bacaan maupun buku harian yang saya letakkan sangat dekat dengan kepala saya. Saya merasa ada energi yang terus-menerus mengalir bolak-balik antara otak saya dengan buku-buku itu.

Pada masa pengabdian itu, menulis telah menjadi kebiasaan yang saya rasakan sangat menyenangkan—sekaligus positif. Menulis juga telah memberi saya banyak inspirasi, semangat serta acapkali sangat membantu dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup. Hidup pun terasa lebih hidup karenanya. Beberapa buku diary (buku harian) yang berisi tulisan-tulisan saya ketika itu, masih tersimpan sampai sekarang. Buku-buku yang pada beberapa bagian dari isinya tidak jarang membuat saya merasa tidak nyaman kalau sampai terbaca oleh isteri saya (he he). Sesekali saya buka buku-buku itu, dan selalu saja ada bagian dari catatan-catatan itu yang membuat saya tersenyum ketika membacanya.

Sayangnya, kebiasaan menulis itu telah lama saya tinggalkan. Seingat saya, awal mulanya adalah ketika telah habis masa pengabdian saya di pondok, kemudian saya beranjak ke Surakarta untuk bekerja sekaligus mendalami ilmu komputer di rumah sekaligus tempat usaha kakak sepupu saya. Nah, di sana, kebiasaan menulis itu mulai saya tinggalkan dan berganti dengan kebiasaan mengutak-atik komputer siang-malam. Ketika masih di pondok, saya juga sudah banyak berurusan dengan komputer, namun waktu yang saya gunakan untuk itu tidak sebanyak ketika saya berada di Surakarta.

Tidak lama saya tinggal dengan kakak sepupu saya itu, hanya kurang lebih satu bulan lamanya. Sebab, saya kemudian mendapat tawaran beasiswa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Di kota gudeg, saya menempati kamar kost yang berada di dalam lingkungan kampus bersama dua orang teman saya yang sama-sama mendapat beasiswa. Di sana, saya mulai sedikit-sedikit membiasakan diri lagi untuk menulis catatan harian. Tapi rupanya, terlalu banyak hal yang mengalihkan perhatian saya dari usaha itu, sehingga usaha itu tidak berjalan dengan mulus. Sekarang, setelah empat tahun saya selesai kuliah dan memiliki seorang isteri juga seorang anak, saya rupanya telah menjadi sangat jarang menulis. Alhasil, ketika hendak memulai lagi kebiasaan menulis atau berusaha amenikmati proses menulis seperti malam ini, otak saya rasanya seperti mesin yang telah lama kehabisan oli. Seret dan macet-macet.

Tapi, bismillah, saya harus berusaha membiasakan diri lagi. Menulis adalah kegiatan positif yang teramat sayang untuk tidak dilakukan. Apalagi, mubadzir kalau blog ini tidak termanfaatkan dengan baik. Saya berharap, mudah-mudahan rencana saya untuk membiasakan diri lagi untuk menulis kali ini bisa berjalan dengan baik. Sekaligus, mudah-mudahan tulisan saya ini ada manfaatnya bagi yang membaca. Amin.
08 Januari 2012

Mendaki Gunung Setapak demi Setapak, Lalu ...

Bagaimana rasanya kalau Anda sedang asyik mendaki gunung setapak-demi setapak sambil menghirup sejuknya udara pegunungan dan mengamati indahnya pemandangan di sekeliling lalu tiba-tiba Anda menyadari bahwa gunung itu kempis atau tiba-tiba masuk ke kantong plastik dan dipungut petugas kebersihan?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About Me

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut